Postingan

Digital Laboratorium Home

Poetry: Similar to Cube

Gambar
Poetry: Similar to Cube Time. So fast turn life. Leaving the lonely and empty chairs. Time too. Painting fallen leaves when it rains to say goodbye. While we were forced to go home to the cage. We're locked in two main words. Lined with unusual rules. Even being stalked by fear without a human manifestation form. Throughout the screen, death after death challenges the times. We gasped. So much has changed. So much slander. Also through the screen, the word passages are narrowed. Complicated turning around. Similar to Cube.   Probolingo, February 17, 2021 Poetry By: Arif R. Saleh

Google Classroom, Cara Mudah Menautkan Gambar di Rancangan Soal Pilihan Ganda

Gambar

Google Classroom: Menilai, Mengomentari, dan Memberi Reward Tugas Siswa

Gambar
Salam sehat Indonesia. Semoga semua bentuk musibah segera berlalu di negeri tercinta. Kesempatan kali ini kembali membahas aplikasi pembelajaran Google Classroom. Meskipun sudah banyak guru melek teknologi digital pembelajaran, tetap perlu saling sharing demi kebermanfaatan bersama.  Masih ada banyak pertanyaan dan harapan ke penulis untuk membuat tutorial "Menilai, Mengomentari, dan Memberi Reward Tugas Siswa" di Google Classroom. Pertanyaan dan diskusi di medsos maupun komunitas MGMP serasa kurang kalau belum didampingi artikel berupa "Tutorial". Baiklah Ibu dan Bapak Guru Hebat, kita buka tugas yang sudah siswa upload pada fitur "Tugas Kelas" di Google Classroom. Penulis tampilkan bentuk tugas sederhana agar mudah dipahami. Berikut langkahnya: A. Kuasai fitur yang ada. (Lihat Gambar di Bawah Ini) Keterangan fitur apa saja yang ada di tampilan "Tugas Kelas", silahkan lihat VIDEO TUTORIAL lewat Link YouTube yang penulis tautkan. B. Menilai Tuga

Peran Tiga Pilar dan Teknologi Membendung Kekerasan Berbasis Gender

Gambar
  Peran Pusat Penguatan Karakter Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) dibentuk agar mampu mewujudkan “Revolusi Mental” yang dicanangkan pemerintah. Puspeka sebagai lembaga baru berupaya mewujudkan “Revolusi Mental” dengan memberikan pemahaman secara luas kepada masyarakat lewat berbagai media. Termasuk kegiatan Webinar Puspeka Ke-15. Bapak Hendarman sebagai Kepala Puspeka menyampaikan beberapa harapan dilaksanakannya Webinar Puspeka Ke-15 bertema “Anti Kekerasan Berbasis Gender”. Pertama , mencegah berbagai kekerasan berbasis gender dari lingkungan pendidikan hingga rumah. Kedua , masyarakat luas dapat memahami bentuk dan dampak kekerasan berbasis gender. Ketiga , mengajak berani membendung kekerasan berbasis gender.   Benang Merah Webinar Ke-15 Puspeka, Peran Tiga Pilar, dan Teknologi Paparan Maria Ulfah Anshor sebagai narasumber dari Komisioner Komnas Perempuan menarik untuk digarisbawahi. Sebagai pembicara ahli kajian wanita dan gender, menyoroti kekerasan terhadap perempuan

Fleksibilitas dan Solusi Pembelajaran Tahun 2021

Gambar
  Sekitar 10 bulan Indonesia dilanda pandemi Covid-19, menimbulkan dampak perubahan di berbagai sendi kehidupan. Di dunia pendidikan, penerapan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan terlaksananya tatap muka langsung terbatas di beberapa daerah memunculkan inovasi model pembelajaran. Istilah daring dan luring begitu akrab di telinga. Bahkan berkembang pula istilah hybrid learning dan blended learning . Meskipun terdapat masalah dan kendala teknis, PJJ dan tatap muka terbatas telah membuka cakrawala pemahaman bahwa peran guru dapat berkolaborasi dengan teknologi. Mampu memberikan layanan pendidikan dalam kondisi apapun. Termasuk tetap melayani digital native di tengah ancaman virus korona yang dapat mengganggu kesehatan dan merenggut keselamatan jiwa. Masalah yang ada perlu solusi, pendampingan, dan kontrol semua pihak. Seperti apa gambaran pembelajaran di tahun 2021. Masihkah PJJ menjadi pilihan utama? Ataukah ada model pembelajaran lain yang lebih luwes memberikan layanan pembelajaran

Reaktualisasi PSPB, Jangan Lagi Disuntik Mati

Gambar
  “Entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah bagaimana rupanya persatuan itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia Merdeka itulah Kapal Persatuan adanya” -Sukarno -   Sejarah Bangsa dan Diskursus Tak Pernah Usai Penulis lebih senang menggunakan istilah “Sejarah Bangsa”. Bicara sejarah bangsa, seharusnya kita bangga. Namun, rasa bangga seketika lenyap kala ditimpuk sengat “Sejarah adalah Produk Kaum Nepotik Orde Baru”. Apakah karena campur tangan Orde Baru, lantas seluruh konten sejarah bangsa digeneralisir sebagai “Permainan Politik”? Ditunggangi kepentingan golongan politik tertentu. Titipan dari generasi nepotik akut. Pemikiran yang naïf. Bahkan bisa jadi, ingin menghancurkan jati diri bangsa. Halus menghapus ingatan sebagai bangsa yang dilahirkan dari sejarah dengan diskursus yang tak pernah usai. Memposisikan sejarah bangsa begitu lemah. Tidak ada rasa bangga. Mengikis habis kepercayaan generasi yang dilahirkan dari darah revolusi. Mereka yang telah d

Covid-19 Mengganas dan Momentum Membumikan Pendidikan Karakter

Gambar
  Munculnya Covid-19 Covid-19 muncul pada Desember 2019 di Wuhan. Mengubah tatanan kehidupan. Lembaga pendidikan dan lainnya terdampak langsung. Covid-19 adalah virus yang mematikan. Belum ada vaksin dan obat untuk mencegah dan menyembuhkan orang yang tertular Covid-19. Pemerintah berjuang melumpuhkan Covid-19. Minimal mengurangi resiko penularan. Upaya pemerintah mengendalikan penyebaran Covid-19 belum berhasil. Bahkan cenderung mengganas. Berdasarkan data di Website Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per tanggal 1 Agustus 2020, Covid-19 di Indonesia telah menyebar di 34 Provinsi. Angka persebaran terkonfirmasi positif Covid-19 masih di bawah angka 1.000. Namun, berdasarkan data pertanggal 8 September 2020, terkonfirmasi Covid-19 menembus angka 3.046. Penambahan ini sangat mengkhawatirkan. Dapat menimbulkan jatuhnya banyak korban.   Mengapa Angka Terkonfirmasi Semakin Bertambah? Sektor pendidikan terdampak langsung Covid-19. Pada awal merebak Covid-19, pembelajaran tatap muk

Ngakak Gaessss

Gambar

Puisi Merah Putih Berkibar

Gambar

Guru bukan Buah Catur

Gambar
Guru bukan Buah Catur Oleh : Arif R. Saleh   “Orang Kreatif itu Melahirkan Beberapa Karya Hebat, Guru Kreatif Melahirkan Banyak Orang Hebat” -   Kurnia Hadinata -*   Catur, permainan strategi. Saling berhadapan dualisme pemikiran tentang “Bagaimana Menjatuhkan Lawan”. Tidak ada kompromi. Tidak ada argumentasi mengedepankan sintesis. Adanya hanya dua pilihan “Tesis dan Anti Tesis”. Saling berhadapan dalam pertempuran. Metafor permainan catur kiranya sesuai dengan eksistensi guru. Di satu sisi, guru dicambuk untuk berubah. Di sisi lain, pengambil kebijakan “lembek” mengeksekusi tatanan perubahan. Guru dan kelas dapat dianalogikan pohon dan buah. Sedangkan media tanamnya adalah pengambil keputusan. Jika media tanam dan pohon dapat sinergi melakukan perubahan, sangat dimungkinkan akan berbuah lebat, manis, dan bermanfaat. Realitas berbeda. Guru belum sepenuhnya diberi ruang improvisasi. Khususnya di jenjang SMP dan SMA maupun yang sederajat. Tengok ruang kelas yang ada.